???

May032013
Sudah banyak fitnah terhadap Islam dan muslimin yang merajalela. Tak terkecuali di Negeri Kinanah Mesir, tempat bersemayamnya para anbiya dan asyqiya. Semua terkumpul di sini. Namun perlu dipertanyakan tentang rasa persaudaraan kita sebagai umat Islam yang katanya ahli tafakkur dan tadabbur. Umat Islam satu dengan yang lainnya itu seperti satu jasad, Baginda Nabi saw menganalogikannya, bila satu bahagian saja merasa kesakitan maka yang lain pun ikut merasa sakit. Kita tak lupa pula sebuah Hadits yang bermakna bahwa, Umat Islam di akhir zaman akan bertambah banyak layaknya buih di lautan, mereka ini mempunyai banyak pengikut, namun kosong tidak ada yang berilmu seperti buih yang akhirnya hilang dengan cepat. Lupakah kita bahwa Allah telah memperingatkan kita agar tidak terjerumus dalam perpecahan (saling bermusuhan satu sama lain), hingga menyebabkan kemenangan pihak lain “Dan Janganlah kalian saling berdebat hingga menyebabkan kalian gagal dan hilanglah kekuatan kalian” . (Al Anfal: 46) Dan sekian banyak ayat lain yang memerintahkan untuk bersatu dalam Islam, merupakan bukti perintah Tuhan yang sharih dan nyata. Melihat seluruh dalil-dalil ini, apakah hanya karena segelintir berita dikotomi (adu domba-red) umat yang dilakukan media sekuler, kemudian semua orang yang “dianggap” di luar ideologi kita terkena imbasnya? Tentu tidak bijak rasanya kita menghukumi sebuah institusi, atau sebuah organisasi besar yang berjuang di jalan dakwah (sama halnya seperti setiap muslim yang peduli dengan agamanya), dengan mengatakan mereka adalah ahli bid’ah-ahli kufur- ahli syirk-ataupun Khawarij. Karena pada dasarnya “Tidak ada istilah bid’ah-kufur-syirik-keluar aqidah, dalam masalah ikhtilafiyah”. Sama halnya juga ketika kita yang berpegang pada sebuah ideologi moderat (tawaassuth-bukan liberal), merasa ada orang yang melakukan penyerangan terhadap pemahaman kita, perlu juga dilakukan cross-check dan tabayyun yang sebenarnya. Sudah sejauh manakah kita memahami sebuah manhaj dakwah yang dilakukan saudara kita yang sama-sama muslim sunni ini? Bukan lantas malah menyerang balik dengan cacian dan panggilan yang tidak baik dengan panggilan Ahli Bid’ah, atau Wahabi/Khawarij, Begitu juga sebaliknya. Allah berfirman : "Seburuk-buruk panggilan ialah yang buruk setelah iman." (Al Hujurat: 11) Sebagian muslim hari ini (muslim awwam dan terpelajar), cenderung men-judge kelompok lain karena penilaian pribadi dari segi perbedaan antar kelompok. Mereka dibutakan oleh ketidak tahuan akan hakikat kelompok yang dibicarakan. Tidak melihat persamaan kelompok yang sama-sama Islam, tapilebih minat membahas perbedaan. Ini dia yang menjadi sumber berita bencana yang selalu digembar-gemborkan oleh pihak yang tidak senang dengan persatuan Umat Islam. Ada perkataan yang sangat rancu ketika seorang mahasiswa menyatakan, “udah dikasih makan sama Universitas X, udah tinggal gratis di sakan, kuliah gak bayar, bahkan dapet beasiswa, tapi ujung- ujungnya memalsukan ajaran dan manhaj X. Malah menyerang ulama X. Tidak tahu diri.” Perkataan semacam ini hampir bisa ditemukan di seluruh universitas ditujukan kepada mahasiswa-nya yang “seolah di mata mereka” bertolak belakang dengan manhaj dakwah yanag dianut Universitas tersebut. Mulai dari ujung Maroko hingga ujung Indonesia, mulai dari universitas yang berafiliasi kepada kerajaaan Saudi (katanya Wahabi), bahkan mereka yang belajar gratis di Iran, hingga Universitas Al-Azhar sendiri. Ada diantara para mahasiswanya yang “jumawa”, ada yang bicara “tidak layak” sebagai seorang tholib ilmi kepada sesama rekannya dengan perkataan di atas, seolah dia adalah makhluk paling benar dan sesuai dengan “seluruh ulama” di Universitas tersebut. Banyak ketidak tahuan (jahalah), miss- understanding, kurang muthala’ah dan qira’ah, tidak pernah belajar kepada ulama yang berlawanan manhaj secara langsung, tidak ada tabayyun, hingga rasa benci yang menimbulkan fanatik buta, serta kondisi sosial yang cenderung ta’assub mendukung untuk melakukan hal “jumawa” tersebut , sangat banyak dilakukan yang katanya mengaku seorang “mahasiswa”. Ini bisa kita temukan di sebagian besar orang yang di pikirannya tertanam kebencian terhadap saudaranya sesama muslim yang tergolong dalam kelompok Sunni lain. Mereka inilah sebenarnya orang yang ingin menghancurkan “tatanan keberagaman” yang sudah menjadi sunnatullah. Mereka ingin menjadikan kehancuran umat Islam lebih cepat. Mereka memecah belah dan mengadu domba antar sesama Islam yang memang sudah lama terpecah ini. Secara tidak sadar, mereka telah membantu tokoh-tokoh liberal dan sekuler untuk mempercepat kehancuran umat Islam dari dalam. Duri dalam daging dan sering mengompor-ngompori sesama muslim sunni. Mereka tidak ada bedanya dengan golongan mutasyadid takfiry yang mengkafirkan sesama muslim. Sebagian besar mereka bahkan tidak dapat lagi membedakan diantara satu far’u ideologi dengan far’u ideologi lainnya. Syubuhat ini menjadikan semua yang berada di luar jalur yang dia anut, merupakan bukan golongan Sunni dan bukan ahlusunnah wal jamaah. “Seolah ada jaminan” bahwa tempat lawan dakwah mereka di akhirat nanti adalah neraka, dan tempat golongan mereka sudah pasti di surga. Padahal mereka paham, bahwa “suatu ijtihad tidak dapat membatalkan ijtihad yang lain”. Tapi tetap saja, seolah masing-masing kelompok itu sangat fanatik dengan golongannya. Indonesia dan Fitnah “Wahabi” Kita bisa mengambil contoh besar perselisihan ini di Indonesia dalam organisasi Muhammadiyah yang didirikan oleh KH.Ahmad Dahlan. Beliau adalah keturunan ke 12 dari habib Maulana Malik Ibrahim (salah seorang walisongo ). Beliau adalah seorang Sufi yang mempelajari Al- Hikam dan Al-Munjiyat dan beliau adalah pendiri Muhammadiyah. Namun oleh pengikut-pengikut ormas lain yang bersebrangan dengan Muhammadiyah, sering mendifinisikan Muhammadiyah adalah saudara Salafi (Wahabi) hanya karena (sebagian Muhammadiyah) tidak menerapkan qunut di sholat shubuhnya, hanya karena Muhammadiyah menerima kedatangan petinggi Ulama Saudi untuk membuka 3 cabang LIPIA di kota lainnya. Bahkan Buya HAMKA (tokoh kedua Muhammadiyah-ketua pertama MUI) sendiri adalah seorang sufi. Beliau sering mengutip ayat “Ala- bidzikrillahi tathmainnal Qulub” yang menjadi dasar tasawwuf. Sebagai bukti lain, perlu juga kita ketahui bersama, tiga organisasi besar lainnya seperti Muhammadiyah- Persis-Al-Irsyad pun turut jadi bulan- bulanan organisasi yang tidak sejalan dengan pemikiran mereka. Hanyalah karena mempunyai kesamaan ide awal dengan Salafi (bukan kesamaan faham), bahkan di Indonesia ketiga organisasi ini adalah lebih senior ketimbang Salafi sendiri yang baru masuk tahun sekitar 1995. Kesamaan ide yang dimaksud adalah dari segi pembaharuan yang dilakukan terhadap umat Islam yang dirasa sudah jauh melenceng dari ketentuan Al-qur’an dan Sunnah. Namun mereka yang menyerang ini tidak paham perbedaan mendasar antara keduanya, karena mereka hanya melihat sisi negatif kelompok tertentu saja untuk menyerang kelompok tersebut. Sisi perbedaannya adalah dari segi medan dakwah yang dihadapi oleh masing-masing dari Muhammadiyah dan Salafi: -Muhammadiyah dan yang lainnya, berusaha membersihkan nusantara yang saat itu masih ada pengaruh Dinamisme dan Animisme karena pengaruh Hindu dan Budha. Maka kehadiran Muhammadiyah adalah untuk memurnikan tauhid agar muslimin tidak mencampurkan antara Ibadah dengan adat (budaya Hindu- Budha). -Medan dakwah Muhammad bin Abdul Wahab tahun 1925 saat itu adalah Jazirah Arab yang dipenuhi oleh kaum muslimin yang mengikuti sunnah Rasul saw, namun tertuduh sebagai musyrik, kafir, dan mubtadi’. Ini adalah sisi perbedaan yang sangat mencukam. Dari contoh besar yang bisa kita jadikan patokan ini, bahwa ternyata ada juga pihak yang menyukai politik dikotomi warisan Belanda ini. Ada diantara mereka yang mengaku belajar di Al-Azhar yang manhajnya tawassuth namun sering merong- rong kelompok lain hanya karena “kepanasan” membaca muqorror aqidah, hingga berakibat timbulnya pikiran “permusuhan” kepada orang yang tidak sepaham. Dan mengambil satu sampel saja dari sekian banyak ulama dan doktor-doktor pengajar nya, adalah diantara hobi mereka. Padahal, kalau ditanya satu persatu, mungkin setiap dosen Al-Azhar itu akan berbeda-beda pandangan manhaj dakwah maupun pandangan politiknya. Ada yang Kontra terhadap IM, ada pula yang pro terhadap IM. Seperti dosen di Fakultas Bahasa Arab Al-Azhar (Kuliyah Lughoh Arabiyah) ada diantara mereka yang pro bahkan pendukung setia pemerintahan Mursi (Ikhwanul Muslimin), seperti Dr. Musthofa, Dr.Mar’iy Salim, Dr.Muhammad Abdul Dzohir, dll. Namun tidak juga berarti, mereka bukan Azhary dan Pro Salafi bukan? Contoh lain, kita tidak melihat permusuhan yang nyata antara Syuyukh Al-Azhar dengan Syuyukh Saudi, bahkan baru-baru ini Grand Syeikh Ahmad Thoyyib diterima dengan hangat dalam ziarahnya ke Saudi. Permusuhan ini rupanya hanya terjadi di kalangan “tholib ilmi” (juhala) saja, bahasa perdebatan yang dipakai pun berbeda jauh dari bahasa para Ulamanya yang santun dan beradab. Mereka kerap kali terbawa emosi sendiri, layaknya kalangan salafiy awwam yang juga sering terbawa emosi dalam berdebat hingga mengeluarkan gelar kafir dan bid’ah hanya karena terlalu banyak membaca “majalah As-Sunnah”. Seorang Azhary yang mempunyai landasan Aqidah Asy’ariyah, beribadah dengan Madzahib Arba’ah (Hanafi-Maliki-Syafii-Hambali), dan berakhlak dengan nilai-nilai Sufiyah. Sudah seharusnya menampakkan bentuk tawassuth nya dalam setiap tindak tanduk dan perkataan, bukan malah ikut-ikutan keras dan berkata “yang macam-macam” kepada kelompok lain. Aku (Bukan) Salafi Dalam bab terakhir Majmu’ah Rasail milik Al-Banna dijelaskan bahwa aqidah salaf dan khalaf adalah satu. Walaupun salaf menyatakan tidak ada takwilan, dan khalaf menyatakan ada takwilan terhadap ayat yang mutasyabihat dalam memahami sifat- sifat Allah, namun bukan berarti salah satunya ada yang menjisimkan Allah. Tidak seperti itu. (Rujuk Majmu’ah Rasail). Pengikut Salafi siapa bilang mereka tidak mengamalkan Mazhahib Arba’ah dan hanya berpegang pada satu qaul? Mereka bukan berpegang pada satu qaul, tapi mereka melakukan pentarjihan pada setiap muqaranah masail fiqhiyah nya. Hingga mereka cenderung “seolah” melakukan satu amalan rajih saja dari aro’ ulama tersebut. Bahkan di LIPIA sendiri, terdapat kitab-kitab fiqih imam yang empat, bahkan kitab fiqih Dzohiriyah “Al-Mahalla nya Ibnu Hazm” yang menghalalkan ghina’ (nyanyian) masih tersimpan di sana. Kalaulah mereka mengamalkan Qaul nya Ahmad Bin Hambal saja, sudah barang tentu tidak ada kitab-kitab tersebut di rak- rak perpustakaan LIPIA Jakarta yang katanya perpus Islamy terbesar di Asia Tenggara itu. Belum lagi para pengajar dan dosennya, mereka kebanyakan malah mengambil dari Al- Azhar Mesir. Sebagaimana , “LIPIA hari ini sudah semakin terbuka pemikirannya”, ujar salah seorang Mahasiswa Syariah mustawa 5 di LIPIA Jakarta. Contoh lain dalam masalah yang lebih furu’iyyah, ikhtilaf ulama ini adalah masalah Tawassul. Para Ulama membagi Tawasul menjadi 3 macam: 1. Tawassul dengan amal shaleh 2. Tawassul dengan orang shaleh yg masih hidup 3. Tawassul dengan orang shaleh yg telah wafat Untuk yang pertama dan kedua para ulama sepakat akan kebolehannya. Untuk yang ketiga para ulama berbeda pendapat. Ada yang membolehkan ada yang melarang. Karena hal ini berada dalam lingkup khilafiyah, maka tidak sepa Aku telah melihat di Mekah ada diantara penguasa yang menghancurkan apa yang dibangun diatas kuburan, dan aku tidak melihat para fuqohaa mencela penghancuran tersebut"(Al- Umm 1/277) Bahkan keterangan mengenai tidak adanya pembangunan kuburan semenjak zaman Rasul saw, para Khalifah, hingga zaman kekhalifahan Umayyah dan Abbasiyah, barulah setelah itu bermunculan pembolehan meninggikan kuburan lebih dari sejengkal ini. Semua bisa dilihat di kitab Akhbarul Madinah karya Ibnu Zabalah dan tulisan Ibrahim Al-‘Allaf Al-‘iraqiy serta banyak periwayatan mengenai kubur Utsman bin Ma’zhun, As’ad, dan Sa’d bin Mu’adz. Dalam hal ibadah khusus malam juma’atan: "Janganlah kalian mengkhususkan malam jum'at dari malam-malam yang lain dengan sholat malam, dan janganlah kalian mengkhususkan hari jum'at dari hari-hari yang lain dengan puasa, kecuali pada puasa yang dilakukan oleh salah seorang dari kalian" (yaitu maksudnya kecuali jika bertepatan dengan puasa nadzar, atau ia berpuasa sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya, atau puasa qodho –lihat penjelasan Imam An- Nawawi dalam Al-Minhaaj 8/19) Dari semua keterangan dan dalil naqliy di atas, kita bisa mengetahui dengan pasti apakah semua ulama Salafi itu sesat dan melakukan pilah- pilih pada qaul ulama? Ataukah hanya rumor belaka yang datang dari karangan para pembenci kelompok Salafi, hingga menyebabkan jurang perbedaan yang semakin mencukam. Apakah benar qaul di atas milik kaum Khawarij? Kalau tidak, lantas kenapa kita memfitnah sesuatu yang kita pun belum pernah belajar di sana atau bergaul dengan Ulama mereka yang dianggap “khawarij” ini? Dan kemudian kita melihat datang sebuah generasi yang tanpa mau belajar, membaca karangannya, hingga merujuk ke kitab-kitab ulama yang bersebrangan pendapat dengannya, dan mereka inilah yang kemudian memperbesar jurang ikhtilafiyah antara dua mazhab besar sunni saat ini. skli lagi muhammadiyah dan nu itu bkn aliran tpi organisasi mrreka ttp ahlusunnah wal jamaah walaupun sya bkn muhmmdyah tpi sya miris mlihat pemikiran msyrkt islma skrng yg pengaruh jil dan wahabi

PAKET INSTALAN MURAH MERIAH

May012013
Pada kesempatan ini saya akan menawarkan beberapa paket install ulang kepada Anda yang dapat Anda pesan kepada kami untuk keperluan install ulang berbagai jenis komputer (PC, Laptop, dan Netbook) Anda. Kami memiliki 5 jenis paket MURAH MERIAH yang dapat Anda pesan. Beberapa pertanyaan yang mungkin dapat mewakili : A: Mengapa harus memiliki paket ini? S: Karena dengan paket MURAH MERIAH yang kami tawarkan... [Baca selengkapnya]
 
Kembali ke Atas